Pessel Tolak Paham Komunisme dan Radikalisme

Indojatipos.com, PESSEL- Bupati Pesisir Selatan, Hendrajoni dan Wakil Bupati, Rusma Yul Anwar serta beberapa unsur organisasi seperti, Ketua Muhamdiyah, NU, FKPPI, KBP3, KNPI di halaman Kantor Bupati belum lama ini, melakukan penandatangani secara bersama atas penolakan terhadap pengaruh paham Komunis dan Radikalisme.

Penandatanaganan itu dilakukan seusai pelaksanaan upacara bendera dalam rangka memperingati Hari Kebangkitan Nasional yang ke-108.

Dalam sambutan pidato Menteri Komunikasi dan Informatika Indonesia yang dibacakan oleh Bupati Pessel menerangkan bahwa komitmen terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sangat penting ditegaskan kembali mengingat setelah sekian lamanya indonesia berdiri sebagai bangsa yang utuh.

Sejak diproklamirkanya kemerdekaan indonesia, ditegaskan bangsa indonesia telah berjanji dan berketetapan hati bahwa NKRI adalah harga mati yang tidak dapat ditawar-tawar lagi dalam kondisi dan keadaan apapun.

Lanjutnya, ancaman dan tantangan akan keutuhan NKRI tidak selangkahpun surut dalam menghadapi berbagai kemajuan. Bahkan melalui kemajuan teknologi digital, ancaman radikalisme dan terorisme yang bisa mendapatkan medium baru untuk penyebaran paham dan praktiknya, tidak menggoyakahkan semangat kesatuan bangsa.

Dalam menghadapi tantangan, dikatakan jawabanya yakni hanya dengan memfokuskan diri pada kerja nyata secara mandiri dan berkarakter.

” Ada penekanan pada dimensi internasional.  kerja nyata kita, kemandirian, dan semua karakter kita ini terpusat pada pemahaman yang saat ini dihadapkan dalam kompetisi global” ujarnya

Dikatakan, persaingan bermunculan tidak lagi dilingkungan tetangga sekitar saja, namun semakin hari semakin muncul   dari seantera penjuru dunia. Oleh justru itu, sebagai satu kesatuan, mau tidak mau indonesia harus bangkit menjadi bangsa yang kompetitif dalam persaingan pada tingkat global.

Pada aspek kerja nyata, kemandirian dan karakter merupakan kunci untuk memenangkannya.Jangan mengedepankan hal-hal sekedar pengembangan wacana yang bersifat seremonial dan tidak produktif.  Diajaknya, saatnya kini untuk bekerja secara nyata dan mandiri dengan cara-cara baru penuh inisiatif.

“Jangan menganggap sesuatu yang dikerjakan selama ini telah menjadi kebiasaan berarti telah benar dan bermenfaat, akan tetapi kita harus membiasakan yang benar dan bukan sekedar membenarkan yang biasa”akhirnya (Hms)

Sumber: Pesisirselatan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *