Harga Kentang di Kerinci Masih Mahal..Ini Penyebabnya..

Indojatipos.com, KERINCI – Harga kentang di tingkat petani dan pedagang di Kabupaten Kerinci dalam dua minggu terakhir masih mahal. Bahkan harga kentang di tingkat pedagang di sejumlah pasar dalam Kabupaten Kerinci tembus Rp 17 ribu per kilogram.

Kondisi ini memantik keluhan masyarakat Kabupaten Kerinci. Pasalnya, setelah Lebaran 1437 Hijriyah lalu, harga kentang di Kerinci meningkat drastis. Karena, salah seorang ibu rumah tangga mengatakan, biasanya harga kentang di pasaran hanya Rp 10 ribu per kilogram. Akan tetapi beberapa minggu terakhir ini telah mencapai Rp 17 ribu per kilogram.

“Memang mahal kentang di pasar. Saya tidak tahu apa penyebabnya. Biasanya satu minggu saya beli kentang lima kilogram tapi sekarang terpaksa dikurangi kerena mahal,” ungkapnya, Minggu (24/7/2016).

Sementara itu Sumianto, petani kentang di Kayu Aro, membenarkan bahwa harga kentang saat ini memang terjadi peningkatan. “Ya, saat ini omset petani kentang naik drastis. Untuk sekarang ini harga petani Rp 13 ribu per kilogram. Sedangkan di tingkat pedagang Rp 17 ribu,” ujarnya.

Ditanya penyebab naiknya harga kentang, Sumianto beralasan karena sebelum lebaran lalu kentang yang baru ditanam di Kayu Aro banyak yang rusak akibat abu vulkanik Gunung Kerinci.

“Kalau penyebab kentang kita terkena abu belerang Gunung Kerinci, sehingga produksi menurut drastis, makanya harga naik sekarang,” katanya.

Selain kentang, tanaman lain seperti kol dan singkong juga terjadi kenaikan harga. “Kalau untuk singkong biasanya harga Rp 1000 per kilogram saat ini naik menjadi Rp 4500 perkilogram, sedangkan untuk sayur kol saat ini Rp 4000 perkilogram,” ujarnya.

Sementara itu Kepala Disperindag kabupaten Kerinci, Letmi Hendri, saat dikonfirmasi juga membenarkan bahwa kentang beberapa minggu terakhir ini terjadi lonjakan.

“Ya, naik itu disebabkan karena kentang di Kerinci sedikit sekarang, namun permintaan banyak, harga ini naik setelah lebaran,” jelasnya.

Namun untuk penyebab mahalnya, kata Letmi, kentang di Kayu Aro tersebut sudah dipanen sebelum lebaran, sehingga pasca lebaran ini jumlah produksi kentang menurun. “Persoalan ini, karena kentangnya sudah dipanen sebelum lebaran. Tapi kenaikan ini lama, paling sekitar 1 bulanlah,” pungkasnya.(Arfa)

Editor: Sutan Riko

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *