7 Kades di Kerinci Disidang, Terkait Pelanggaran Pilkada Kerinci 2018

INDOJATIPOS.COM, KERINCI – Tujuh Kepala Desa (kades) di Kabupaten Kerinci tersandung kasus dugaan pelanggaran tindak pindana Pilkada Kerinci 2018.

Ketujuh kades yang menjadi terlapor dalam pelanggaran Pemilu atau Pilkada karena menguntung salah satu Calon Bupati dengan berfoto Calon Wakil Bupati Kerinci, Ami Taher beberapa waktu lalu, menjalani sidang perdana di Pengadilan Negeri Sungaipenuh, pada Kamis (17/5).

Pantauan di Pengadilan Negeri Sungaipenuh, dalam sidang pertama ini, hadir Tujuh Kepala Desa yakni Kepala desa Koto tuo, Suhatmir, Kepala Koto Payang, Ardinal, Kepala Desa Pasar Semurup Ipan Chatib, Kepala Desa Kubang Gedang Fardi Amran, Kepala desa Belui Tinggi, Zul Pakani, kades Lubuk Suli, Faisal dan Kepala Desa Koto Lanang, Agusmantoni. Agenda sidang perdana ini adalah membacakan dakwaan.

Dakwaan saksi pun dihadirkan untuk dimintai keterangan. Saksi yang dihadirkan Kepala desa koto panjang Rafli Hadi dan Kepala desa Koto simpai Jihatman. Dihadapan majelis hakim kedua saksi menyampaikan menghadiri acara pernikahan tersebut namun pada saat melaksanakan foto saksi hanya mengacungkan jempol yang menandai baik. Berbeda dengan kades yang lain dengan mengacungkan dua jari.

“Foto yang ditampilkan bukan rekayasa, foto ini asli sesuai yang terjadi, tapi saya tidak mengetahui pasti siapa orang yang mengambik fotonya,” kata Rafli Hadi, Saksi yang hadir acara tersebut.

Sedangkan saksi Jihatman, mengaku kebutulan lewat dan terekam oleh kamera. “Tidak ada niat untuk berfoto karena setiap kades mendapat undangan untuk menghadiri resepsi pernikahan di Semurup,” katanya.

Selain itu majelis hakim juga mendengarkan keterangan dari saksi Pengantin tempat pernikahan berlangsung, Firman, dia mengatakan bahwa Ami Taher hadir sebagai tuan rumah yang turut mengundang. “Para kades kecamatan Depati Tujuh dan Air Hangat diundang. Tapi tidak melihat ada kegiatan foto antara bapak Ami Taher dengan Terdakwa,”sebutnya.

Sedangkan anggota Panwaslu Kerinci, Wawan Kurniawan, dalam persidangan, mengatakan, dirinya melihat dipostingan ada temuan kepada para terdakwa dengan 2 jari sebagai simbol salah satu paslon yg seharusnya tidak lakukan oleh kepala desa, sehingga kejadian tersebut di naikkan ke Gakkumdu.

“Postingan dianggap adanya temuan pelanggaran dikarenakan tanggal 15 feb s/d 23 Juni 2018 sudah masuk massa kampanye,” jelasnya.

Reki Animan, Panwascam Depati Tujuh, yang menjadi saksi, mengatakan, bahwa dirinya tidak melihat secara langsung kejadian tersebut, karena dirinya hanya memanggil para kades dan mengklarifikasi tentang foto tersebut. “Foto dilihat langsung melalui Group WhatsApp,” bebernya.

Sedakan Saksi ahli lainya, Suhardiman yang merupakan komisioner KPU saat dimintai keterangan, menyampaikan, Kepala desa yang memiliki masyarakat. Sehingga dengan adanya postingan 2 jari ini dapat mempengaruhi atau ajakan menguntungkan pihak lain.

“Dengan foto tersebut itu sudah merupakan pernyataan sikap menguntungkan dan merugikan salah satu paslon,” terangnya.

Sidang perdana ini berjalan dengan aman,lancar dan kondusif. Agenda sidang kedua di lanjutkan pada Jumat 18 Mei 2018. (Cr04)

Share Artikel Ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *