Penyalahgunaan Narkoba di Kalangan Anak-anak  


Penulis: Fadli Jannatul Firdaus

NIM: 1804107

Jurusan Farmasi, Universitas Perintis Indonesia

PENYALAHGUNAAN narkotika,psikotropika, dan zat adiktif lainnya mulai marak Kembali di Indonesia. Narkotika dan obat-obatan terlarang telah banyak mempengaruhi mental dan sekaligus Pendidikan bagi para pelajar saat ini. Anak merupakan generasi muda penerus cita-cita bangsa dan merupakan sumber daya manusia pembangunan nasional. Anak dalam pemaknaan yang umum mendapat perhatian baik dalam bidang ilmu pengetahuan , agama ,hukum, dan sosiologi yang menjadikan pengertian anak semakin aktual dalam lingkungan sosial.

Penyalahgunaan dalam pengunaan narkoba adalah pemakaian obat-obatan atau zat-zat berbahaya dengan tujuan bukan untuk pengobatan dan penelitian serta digunakan tanpa mengikuti aturan atau dosis yang benar. Dalam kondisi yang cukup wajar/sesuai dosis yang dianjurkan dalam dunia kedokteran saja maka pengunaan narkoba secara terus-menerus akan mengakibatkan ketergantungan, depedensi, adiksi atau kecanduan.

Penyalahgunaan narkotik dan psikotropik merupakan suatu problem yang sangat kompleks. Karna itu butuh kesadaran dari semua pihak baik dari pemerintah, masyarakat maupun pelaku itu sendiri. Penjatuhan pidana terhadap anak pelaku penyalahgunaan narkoba adalah kurang bijak dinilai oleh Sebagian kalangan yang tidak setuju dan bagi yang setuju penjatuhan pidana adalah agar tidak akan melakukan penyimpangan lagi.

Pada tahun 2002 BNN ( Badan Narkotika Nasional ) didirikan. Oleh kepala pelaksanaan harian ( KaLaKhar ) BNN yang saat itu di jabat oleh komjen Pol Drs Nurfaizi. Ia menyatakan peran terhadap narkoba. Karna jumlah pecandu narkoba (narkotika dan obat-obatan berbahaya) di Indonesia meningkat tajam dalam lima tahun terakhir (berate 1997-2002), bahkan anak usia Sekolah Dasar (SD) pun sudah termasuk incaran pengedar narkoba. Modus  operandi penyebaran di kalangan anak-anak pun bermacam-macam, antara lain melalui permen yang di jual pedagang asongan yang sering mangkal di sekolah.

Pada tahun 2004, BNN meyelenggarakan survey Nasional Penyalahgunaan Narkoba. Salah satu hasilnya, menunjukan bahwa anak sekolah dasar sudah mengkonsumsi narkoba. Yang lebih mengejutkan lagi, berdasarkan survey itu terungkap bahwa usia termuda pemakai narkoba adalah anak-anak berusia 7 tahun dengan jenis inhalan (dihirup). Dikalangan anak jalanan, jauh sebelum survey itu digelar, memang sudah di kenal istilah ‘ngelem’ yaitu perbuatan menghirup lem cair (seperti aica aibon). Bila lem tersebut dihirup dalam-dalam dapat memberi efek melayang  sebagaimana dirasakan oleh pengguana narkoba.

Total pengguna narkoba di Indonesia mencapai 3,2 juta orang. Sebanyak 1,1 juta orang di antaranya adalah pengguna dari kalngan SD,SMP,SMA, dan Mahasiswa. Apabila pengguna SD menggunakan lem aibon untuk memberi efek melayang, siswa SMP, SMA, dan mahasiswa memakai narkotika dari berbagai jenis untuk memberikan efek melayang. Jenis narkotika campur-campur merupakan jenis yang paling banyak disalahgunakan oleh pelajar dan mahasiswa. Daun ganja merupakan jenis narkoba yang menduduki urutan kedua yang sering digunakan. Sedagkan tumbukan daun kecubung menduduki peringkat ketiga, ekstasi pada urutan keempat, sabu-sabu urutan kelima, dan benzodiazepam atau obat antidepresi urutan terakhir jenis narkotika yang sering dipakai.

Dampak Penggunaan Narkoba dan Penyalahgunaan Narkoba secara fisik, psikis dan sosil akan berpotensi menimbulkan penyakit/rasa sakit yang luar biasa dan ketagihan kalau tidak dapat mengkonsumsinya (narkoba), karena ada dorongan kuat (secara psikologis) untuk mendapatkannya, walaupun dengan berbagai cara (menghalalkan segala cara untuk mendapatkannya) dengan melanggar norma-norma sosial yang berlaku.

Bagir Manan berpendapat bahwa anak-anak di lapangan hukum pidana di Lembaga Pemasyarakatan dilakukan sama dengan perkara orang dewasa. Perlakuan yang berbeda hanya pada waktu pemeriksaan di sidang pengadilan, sidang untuk perkara anak dilakukan secara tertutup (Pasal 153 ayat (3) KUHAP) dan petugasnya (hakim dan jaksa) tidak memakai toga. Semua itu terkait dengan kepentingan fisik, mental dan sosial anak yang bersangkutan.4 Kedudukan anak dalam lingkungan hukum hukum sebagai subjek hukum ditentukan dari sistem hukum terhadap anak sebagai kelompok masyarakat yang berada di dalam status hukum dan tergolong tidakmampu atau di bawah umur. Maksud tidak mampu karena kedudukan akal dan pertumbuhan fisik yang sedang berkembang dalam diri anak yang bersangkutan. Meletakkan anak sebagai subjek hukum yang lahir dari proses sosialisasi berbagai nilai kedalam peristiwa hukum pidana maupun hubungan kotrak yang berada dalam lingkup hukum perdata menjadi mata rantai yang tidak dapat dipisahkan.

Akibat penggunaan narkotika ini akan memberikan dampak sebagai berikut :

  1. Dalam hal ini para pemakai akan tertidur atau tidak sadarkan diri.
  2. Dalam hal ini para pemakai akan berhalusinasi (melihat sesuatu yang sebenarnya tidak ada).
  3. Akibat pengaruh stimulan pada narkotika dan obat-obatan terlarang bagi organ tubuh antara lain adalah mempercepat kerja organ tubuh seperti jantung dan otak sehingga pemakai merasa lebih bertenaga untuk sementara waktu. Karena organ tubuh terus dipaksa bekerja di luar batas normal, lama-lama saraf-sarafnya akan rusak dan bisa mengakibatkan kematian.
  4. Adiktif (Kecanduan). Dampak pengaruh negatif kepada para pemakai dalam hal ini adalah akan merasa ketagihan sehingga akan melakukan berbagai cara agar terus bisa mengonsumsinya. Jika pemakai tidak bisa mendapatkannya, tubuhnya akan ada pada kondisi kritis (sakaw). jumlah siswa sekolah yang terkena narkoba ada 4 hingga 6 juta anak, 70 persen dari 4 juta pecandu narkoba tercatat sebagai anak usia sekolah, yakni berusia 14 hingga 20 tahun, bahkan sudah menyusup ke anak usia SD.

Anak sekolah, menurut dia, biasanya mencoba memakai narkoba dengan anggapan narkoba itu keren. Selain itu di masa remaja yang labil biasanya mereka butuh tempat untuk mencurahkan masalah mereka. The National Youth Anti-Drug (USA, 1998) memaparkan alasan anak-anak ini berdasarkan hasil penelitian mereka:

  • Keluar dari kebosanan/kejenuhan.
  • Untuk merasa enak
  • Melupakan masalah dan santai.
  • Untuk bersenang-senang.
  • Memuaskan rasa ingin tahu.

 

block ID 8719 : indojatipos.com
     

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.